Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!
Being a mother is hard, and it wasn't a subject I ever studied. ~ Ruby Wax
Sudah kenal (atau seenggaknya) ngepoin Karin Novilda, Ma?
Para
remaja beberapa hari terakhir ini nampaknya selain lagi gemar main
Pokemon Go, ternyata juga lagi pada heboh gara-gara seorang Selebgram,
Vlogger, sekaligus pengguna Ask.fm
(yang katanya) keren bernama Awkarin aka Karin Novilda. Saya sendiri
baru kemarin malahan dengar namanya. Dan langsung kepo dong.
Siapa si Awkarin ini? Apanya awkward? #eh
Ternyata
saat saya tahu, beneran awkward deh sayanya. Jadi dia ini remaja biasa
sih sebenarnya. Hanya saja dia punya kelakuan 'unik'. Unik dalam arti
negatif. She swears, she kissed her boyfriend macam kita sama si papa,
she wants attention more and more.
Beberapa saat
ngepoin, akhirnya yang bisa saya lakukan adalah mengelus dada sembari
berdoa, semoga anak-anak saya nggak membuat heboh dunia maya dengan cara
demikian.
Yang Awkarin lakukan bagi saya adalah bentuk
permintaan perhatian darinya. Tapi dengan cara yang salah. Dan biasanya
orang (baca: remaja labil) akan melakukannya saat dia tak mendapatkannya
dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Padahal Awkarin sebelumnya
adalah pemegang nilai tertinggi Ujian Nasional di Riau. Ini berarti
mengungkap fakta lagi bahwa dia sebenarnya bukanlah remaja bodoh, yang
ho oh-ho oh saja dicekoki oleh orang lain. Saya hanya menduga, bahwa dia
kemudian disilaukan oleh gaya pergaulan yang salah, yang kemudian dia
coba, dan akhirnya merasa dari situ dia bisa mendapatkan bentuk
perhatian yang selama ini dicarinya.
Hingga akhirnya bola
salju berputar. Bertambah besar setiap harinya, dan Awkarin pun semakin
salah mengambil keputusan. Dan sekarang sudah terlalu jauh untuk
berbalik (tentunya kalau dia mau berbalik).
Mungkin
perilaku Awkarin ini merupakan cerminan terbesar bagi remaja kita
nowadays. Pasti nggak sedikit yang juga melakukan hal-hal ini. Terbukti
dengan beberapa komen dari follower Awkarin yang dengan histerisnya
bilang bahwa gaya pacaran Awkarin adalah #RelationshipGoals banget.
Jadi, pastinya, entah tersirat atau tersurat, remaja kita juga pengin
melakukannya.
Kenyataan pahit? Iya banget, buat kita orangtuanya.
Pengin
anak kita kemudian meniru Awkarin, karena dianggap keren? Nggak
tentunya ya, kalau Mama sepakat dengan saya, bahwa Awkarin ini sama
sekali nggak ada keren-kerennya. Terus, gimana kita menanamkan hal ini
pada remaja kita?
Yang berikut ini adalah beberapa hal
yang terjadi pada Awkarin, tapi bisa kita tanamkan dengan cara yang
berbeda pada remaja kita.
1. If you post something on the internet, it will last forever
Sumpah
serapah Awkarin bertebaran di mana-mana, di dalam vlog-nya, di caption
dan komen Instagramnya. Yes, she swears a lot. Adegan ciuman, pelukan
vulgarnya dan gaya pacarannya juga ada di mana-mana, di dalam vlog-nya,
di foto Instagram-nya ...
Yakin, itu nggak akan melekat
jadi image negatif dari dirinya? Masyarakat kita, however, masih
menganut nilai dan norma kebudayaan yang konvensional. Lalu, katakan
saja, mungkin memang sekarang banyak brand dan agency yang merangkul
selebgram, vlogger, ataupun social media enthusiast jenis lainnya untuk
meng-endorse produk yang mereka pasarkan. Apa kita yakin, mereka akan
melirik selebgram bereputasi dan berkonotasi negatif seperti Awkarin?
Apa kabar dengan image produk mereka nanti jika diidentikkan dengan hal
yang negatif?
Belum lagi kalau nantinya harus bekerja.
Gimana kalau calon bos perusahaan di mana anak kita mau ngelamar kerja
terus ngepoin akun-akun media sosialnya? Gimana kalau semua hal negatif
yang sudah diposting itu dilihat oleh dosen juga? Oleh rekan sekerja?
Oleh calon klien? Yakin nggak akan jadi BAD portfolio buatnya?
Kalaupun
Awkarin insaf, dan kemudian memutuskan untuk menghapus semuanya, yakin
bakalan terhapus semua? Media online dua hari ini heboh memberitakan
mengenai dirinya, lengkap dengan screenshoot akun-akun media sosialnya.
Yakin, mau meminta satu per satu untuk menghapusnya?
What you posted to internet, it will stay FOREVER!
Baca juga: Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!
2. Bahwa edgy dan keren itu beda arti dengan cabul
Coba
amati komen-komen yang mampir di akun Instagram Awkarin, ataupun di
vlog-nya. Banyak yang bilang "Awww! So cute!" atau "Pengen kayak
kakak!", dan seterusnya.
Remaja kita, yang masih labil itu, memandang Awkarin dan pacarnya sangat keren dan edgy, Mama! *pingsan*
Nggak, Nak, itu bukan hal yang keren atau edgy! Itu cabul. Tahu kan, arti kata cabul?
cabul/ca·bul/ a keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan) ~ Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bagaimanapun
kita hidup di Indonesia, Nak. Dan yang seperti itu sama sekali nggak
keren di sini, meski kita hidup di Jakarta ataupun kota besar lain yang
katanya modern! Bukan yang seperti itu yang disebut edgy (means at the
forefront of a trend; experimental or avant-garde.) Estée Lalonde itu
keren, Nak. Atau Marcus Butler. Evita Nuh, itu edgy, Nak. Atau Asyura
Hatta.
Apa yang Awkarin lakukan, itu bukan
#relationshipgoals, Nak. #RelationshipGoals itu adalah hidup menua
bersama, selamanya, saling cinta. Bukan pacaran doang. lalu putus 6
bulan kemudian, Nak.
Camkan itu!
3. Bahwa bentuk perhatian yang utama dan pertama diperoleh dari keluarga
"Mau caper? Coba caper dulu sama Mama sini!"
Perhatian
merupakan salah satu kebutuhan primer bagi remaja yang masih labil dan
masih mencari identitas diri seperti ini. Dan, seharusnya, itu bisa
dipenuhi lebih dulu oleh orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga.
Sepertinya
ini gambaran klise masa kini ya, Ma. Anak-anak yang menjadi korban juga
akhirnya. Saya bukannya menghakimi orangtua Awkarin sih. Tapi
bagaimanapun, saya percaya bahwa anak adalah cerminan dari orangtuanya.
Saat si anak berlebihan perhatian dan orangtua bisa menjadi contoh yang
baik, mereka nggak akan jauh-jauh banget jatuhnya juga kan?
Makanya, Ma ... sudah memberikan perhatian pada si kecil belum hari ini?
4. Bahwa haters itu sama dan tidak sama dengan fans
Kadang
terceletuk di keseharian, bahwa haters itu bisa jadi merupakan fans
yang sebenarnya gengsi untuk mengakui kekagumannya. Hahaha.
Tahu
nggak sih, bahwa kalimat tersebut sebenarnya merupakan bentuk kalimat
hiburan? Menghibur diri sendiri, lebih tepatnya, karena kadang diucapkan
oleh orang yang merasa punya haters.
Padahal sih enggak.
Haters ya haters. Fans ya fans. Punya perbedaan, yang satu memang benci
pada kita karena suatu hal, yang lainnya begitu kagum pada kita. Ada
perbedaannya, tapi ternyata ada pula kesamaannya. Kesamaannya,
dua-duanya akan menonton saat kita gagal! Yang satu akan menonton dengan
senang sambil ngetawain, yang lainnya akan menonton dengan simpati
(meski hanya pura-pura). Tapi ya tetep, mereka akan menjadi penonton.
Lalu bertepuk tangan dan minta ditambah saat drama usai. Keduanya not
really here with us, saat kita mengalami kesulitan atau keterpurukan.
So, yakin, Nak, mau punya fans atau haters seperti Awkarin?
Baca juga: Ini Dia 17 Racun Teknologi yang Tanpa Sadar Telah Mengontaminasi Kita Sehari-hari. Waspadalah!
5. Bahwa kadang musibah itu nggak datang dari Tuhan, tapi akibat perilaku buruk kita sendiri
Saya
sering tertawa kalau mendengar (terutama sih dari infotainment ya) ada
orang bilang bahwa dia sedang mendapat cobaan dari Tuhan, padahal
jelas-jelas itu merupakan akibat dari perilaku buruknya sendiri. Contoh,
ada artis bilang sedang mendapat cobaan dari Tuhan saat foto-foto tidak
senonohnya beredar di dunia maya. Padahal reputasinya sendiri memang
nggak pernah bagus.
Aduh. Kasihan banget Tuhan, ya? Jadi kambing hitam.
Seperti
Awkarin. Dia menyebut apa yang dialaminya sekarang sebagai ujian dari
Tuhan. Padahal jelas-jelas itu adalah sebagai akibat apa yang
diperbuatnya sendiri.
Karena bagaimanapun, hukum sebab
akibat masih ada dan bisa terjadi di dunia nyata ini, Nak. Makanya
sesekali piknik ke dunia nyata ya, jangan main di dunia maya melulu.
6. Bahwa kalau kita terkenal karena reputasi buruk, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang buruk pula
No
pain, no gain. Tanpa usaha, kita memang nggak akan mendapatkan apa pun.
Itu betul sekali. Tapi kalau usahanya negatif, ya pastinya hasil yang
akan kita dapatkan juga buruk.
Siapa menabur angin,
akan menuai badai. Dia yang berbuat, dia pula yang terkena akibat. Ini
adalah penjelasan dari poin sebelumnya. Apa yang didapat oleh seorang
Awkarin di masa depan? Apa saja bisa terjadi, dan saya nggak yakin dia
bisa bangga pada dirinya sendiri di masa tuanya kalau mengingat
kelakuannya di masa sekarang. Tentunya, kalau dia masih waras.
Jangan pernah sepelekan kata pepatah, Nak. Karena pepatah biasanya tercipta karena pengalaman orang banyak.
7. Bahwa menjadi seorang free-spirited nggak berarti dia harus melakukan hal yang negatif
Seseorang
yang free-spirited, atau berjiwa bebas, selalu diidentikkan dengan
menjadi seorang yang rebellious, menentang norma-norma yang berlaku di
masyarakat.
Memang bisa dibilang begitu, tapi nggak
selalu dilakukan in a wrong way. Tidak kemudian dengan ciuman di depan
kamera, demi memberontak pada aturan kesusilaan. Tidak juga dengan smoke
the weed, demi memberontak pada aturan mengenai larangan mabuk.
You
can do it in better way, Nak! Misalnya, kamu nggak suka jadi karyawan
seperti umumnya orang-orang, maka kamu mulai menjajaki mimpimu menjadi
seorang enterpreneur sejak sekarang. Atau saat kamu dianggap nggak mampu
menembus IPK tinggi, maka kamu pun belajar mati-matian untuk
mendapatkan gelar cum laude. Atau kondisi kamu nggak memungkinkan untuk
menjadi pemusik karena pendengaran kamu yang mengalami gangguan, kamu
justru tampil bak Beethoven di panggung sekolahmu. Ingin membebaskan
jiwamu, Nak? Maka lakukan perjalanan seperti seorang Christine sang
Grrrl Traveler!
See? You can do much much better as a rebellious an free-spirited person in a good way!
Nah, Mama. Sepakat kan dengan saya, bahwa nggak perlu kita sendiri yang berbuat salah baru kemudian belajar? Kita bisa belajar dari kesalahan orang. Kita sendiri sebagai orangtua juga nggak pernah bisa berhenti belajar sampai kapan pun, apalagi kalau sampai menyangkut kehidupan masa depan anak-anak kita kan?
Maka, yuk, kita belajar dari kasus Awkarin. Kita belajar dari kesalahan orang lain, dan jangan sampai jatuh di lubang yang sama. Berusaha melakukan hal yang positif, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang baik.
Stay positive, Mama!
Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!
Being a mother is hard, and it wasn't a subject I ever studied. ~ Ruby Wax
Sudah kenal (atau seenggaknya) ngepoin Karin Novilda, Ma?
Para
remaja beberapa hari terakhir ini nampaknya selain lagi gemar main
Pokemon Go, ternyata juga lagi pada heboh gara-gara seorang Selebgram,
Vlogger, sekaligus pengguna Ask.fm
(yang katanya) keren bernama Awkarin aka Karin Novilda. Saya sendiri
baru kemarin malahan dengar namanya. Dan langsung kepo dong.
Siapa si Awkarin ini? Apanya awkward? #eh
Ternyata
saat saya tahu, beneran awkward deh sayanya. Jadi dia ini remaja biasa
sih sebenarnya. Hanya saja dia punya kelakuan 'unik'. Unik dalam arti
negatif. She swears, she kissed her boyfriend macam kita sama si papa,
she wants attention more and more.
Beberapa saat
ngepoin, akhirnya yang bisa saya lakukan adalah mengelus dada sembari
berdoa, semoga anak-anak saya nggak membuat heboh dunia maya dengan cara
demikian.
Yang Awkarin lakukan bagi saya adalah bentuk
permintaan perhatian darinya. Tapi dengan cara yang salah. Dan biasanya
orang (baca: remaja labil) akan melakukannya saat dia tak mendapatkannya
dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Padahal Awkarin sebelumnya
adalah pemegang nilai tertinggi Ujian Nasional di Riau. Ini berarti
mengungkap fakta lagi bahwa dia sebenarnya bukanlah remaja bodoh, yang
ho oh-ho oh saja dicekoki oleh orang lain. Saya hanya menduga, bahwa dia
kemudian disilaukan oleh gaya pergaulan yang salah, yang kemudian dia
coba, dan akhirnya merasa dari situ dia bisa mendapatkan bentuk
perhatian yang selama ini dicarinya.
Hingga akhirnya bola
salju berputar. Bertambah besar setiap harinya, dan Awkarin pun semakin
salah mengambil keputusan. Dan sekarang sudah terlalu jauh untuk
berbalik (tentunya kalau dia mau berbalik).
Mungkin
perilaku Awkarin ini merupakan cerminan terbesar bagi remaja kita
nowadays. Pasti nggak sedikit yang juga melakukan hal-hal ini. Terbukti
dengan beberapa komen dari follower Awkarin yang dengan histerisnya
bilang bahwa gaya pacaran Awkarin adalah #RelationshipGoals banget.
Jadi, pastinya, entah tersirat atau tersurat, remaja kita juga pengin
melakukannya.
Kenyataan pahit? Iya banget, buat kita orangtuanya.
Pengin
anak kita kemudian meniru Awkarin, karena dianggap keren? Nggak
tentunya ya, kalau Mama sepakat dengan saya, bahwa Awkarin ini sama
sekali nggak ada keren-kerennya. Terus, gimana kita menanamkan hal ini
pada remaja kita?
Yang berikut ini adalah beberapa hal
yang terjadi pada Awkarin, tapi bisa kita tanamkan dengan cara yang
berbeda pada remaja kita.
1. If you post something on the internet, it will last forever
Sumpah
serapah Awkarin bertebaran di mana-mana, di dalam vlog-nya, di caption
dan komen Instagramnya. Yes, she swears a lot. Adegan ciuman, pelukan
vulgarnya dan gaya pacarannya juga ada di mana-mana, di dalam vlog-nya,
di foto Instagram-nya ...
Yakin, itu nggak akan melekat
jadi image negatif dari dirinya? Masyarakat kita, however, masih
menganut nilai dan norma kebudayaan yang konvensional. Lalu, katakan
saja, mungkin memang sekarang banyak brand dan agency yang merangkul
selebgram, vlogger, ataupun social media enthusiast jenis lainnya untuk
meng-endorse produk yang mereka pasarkan. Apa kita yakin, mereka akan
melirik selebgram bereputasi dan berkonotasi negatif seperti Awkarin?
Apa kabar dengan image produk mereka nanti jika diidentikkan dengan hal
yang negatif?
Belum lagi kalau nantinya harus bekerja.
Gimana kalau calon bos perusahaan di mana anak kita mau ngelamar kerja
terus ngepoin akun-akun media sosialnya? Gimana kalau semua hal negatif
yang sudah diposting itu dilihat oleh dosen juga? Oleh rekan sekerja?
Oleh calon klien? Yakin nggak akan jadi BAD portfolio buatnya?
Kalaupun
Awkarin insaf, dan kemudian memutuskan untuk menghapus semuanya, yakin
bakalan terhapus semua? Media online dua hari ini heboh memberitakan
mengenai dirinya, lengkap dengan screenshoot akun-akun media sosialnya.
Yakin, mau meminta satu per satu untuk menghapusnya?
What you posted to internet, it will stay FOREVER!
Baca juga: Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!
2. Bahwa edgy dan keren itu beda arti dengan cabul
Coba
amati komen-komen yang mampir di akun Instagram Awkarin, ataupun di
vlog-nya. Banyak yang bilang "Awww! So cute!" atau "Pengen kayak
kakak!", dan seterusnya.
Remaja kita, yang masih labil itu, memandang Awkarin dan pacarnya sangat keren dan edgy, Mama! *pingsan*
Nggak, Nak, itu bukan hal yang keren atau edgy! Itu cabul. Tahu kan, arti kata cabul?
cabul/ca·bul/ a keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan) ~ Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bagaimanapun
kita hidup di Indonesia, Nak. Dan yang seperti itu sama sekali nggak
keren di sini, meski kita hidup di Jakarta ataupun kota besar lain yang
katanya modern! Bukan yang seperti itu yang disebut edgy (means at the
forefront of a trend; experimental or avant-garde.) Estée Lalonde itu
keren, Nak. Atau Marcus Butler. Evita Nuh, itu edgy, Nak. Atau Asyura
Hatta.
Apa yang Awkarin lakukan, itu bukan
#relationshipgoals, Nak. #RelationshipGoals itu adalah hidup menua
bersama, selamanya, saling cinta. Bukan pacaran doang. lalu putus 6
bulan kemudian, Nak.
Camkan itu!
3. Bahwa bentuk perhatian yang utama dan pertama diperoleh dari keluarga
"Mau caper? Coba caper dulu sama Mama sini!"
Perhatian
merupakan salah satu kebutuhan primer bagi remaja yang masih labil dan
masih mencari identitas diri seperti ini. Dan, seharusnya, itu bisa
dipenuhi lebih dulu oleh orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga.
Sepertinya
ini gambaran klise masa kini ya, Ma. Anak-anak yang menjadi korban juga
akhirnya. Saya bukannya menghakimi orangtua Awkarin sih. Tapi
bagaimanapun, saya percaya bahwa anak adalah cerminan dari orangtuanya.
Saat si anak berlebihan perhatian dan orangtua bisa menjadi contoh yang
baik, mereka nggak akan jauh-jauh banget jatuhnya juga kan?
Makanya, Ma ... sudah memberikan perhatian pada si kecil belum hari ini?
4. Bahwa haters itu sama dan tidak sama dengan fans
Kadang
terceletuk di keseharian, bahwa haters itu bisa jadi merupakan fans
yang sebenarnya gengsi untuk mengakui kekagumannya. Hahaha.
Tahu
nggak sih, bahwa kalimat tersebut sebenarnya merupakan bentuk kalimat
hiburan? Menghibur diri sendiri, lebih tepatnya, karena kadang diucapkan
oleh orang yang merasa punya haters.
Padahal sih enggak.
Haters ya haters. Fans ya fans. Punya perbedaan, yang satu memang benci
pada kita karena suatu hal, yang lainnya begitu kagum pada kita. Ada
perbedaannya, tapi ternyata ada pula kesamaannya. Kesamaannya,
dua-duanya akan menonton saat kita gagal! Yang satu akan menonton dengan
senang sambil ngetawain, yang lainnya akan menonton dengan simpati
(meski hanya pura-pura). Tapi ya tetep, mereka akan menjadi penonton.
Lalu bertepuk tangan dan minta ditambah saat drama usai. Keduanya not
really here with us, saat kita mengalami kesulitan atau keterpurukan.
So, yakin, Nak, mau punya fans atau haters seperti Awkarin?
Baca juga: Ini Dia 17 Racun Teknologi yang Tanpa Sadar Telah Mengontaminasi Kita Sehari-hari. Waspadalah!
5. Bahwa kadang musibah itu nggak datang dari Tuhan, tapi akibat perilaku buruk kita sendiri
Saya
sering tertawa kalau mendengar (terutama sih dari infotainment ya) ada
orang bilang bahwa dia sedang mendapat cobaan dari Tuhan, padahal
jelas-jelas itu merupakan akibat dari perilaku buruknya sendiri. Contoh,
ada artis bilang sedang mendapat cobaan dari Tuhan saat foto-foto tidak
senonohnya beredar di dunia maya. Padahal reputasinya sendiri memang
nggak pernah bagus.
Aduh. Kasihan banget Tuhan, ya? Jadi kambing hitam.
Seperti
Awkarin. Dia menyebut apa yang dialaminya sekarang sebagai ujian dari
Tuhan. Padahal jelas-jelas itu adalah sebagai akibat apa yang
diperbuatnya sendiri.
Karena bagaimanapun, hukum sebab
akibat masih ada dan bisa terjadi di dunia nyata ini, Nak. Makanya
sesekali piknik ke dunia nyata ya, jangan main di dunia maya melulu.
6. Bahwa kalau kita terkenal karena reputasi buruk, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang buruk pula
No
pain, no gain. Tanpa usaha, kita memang nggak akan mendapatkan apa pun.
Itu betul sekali. Tapi kalau usahanya negatif, ya pastinya hasil yang
akan kita dapatkan juga buruk.
Siapa menabur angin,
akan menuai badai. Dia yang berbuat, dia pula yang terkena akibat. Ini
adalah penjelasan dari poin sebelumnya. Apa yang didapat oleh seorang
Awkarin di masa depan? Apa saja bisa terjadi, dan saya nggak yakin dia
bisa bangga pada dirinya sendiri di masa tuanya kalau mengingat
kelakuannya di masa sekarang. Tentunya, kalau dia masih waras.
Jangan pernah sepelekan kata pepatah, Nak. Karena pepatah biasanya tercipta karena pengalaman orang banyak.
7. Bahwa menjadi seorang free-spirited nggak berarti dia harus melakukan hal yang negatif
Seseorang
yang free-spirited, atau berjiwa bebas, selalu diidentikkan dengan
menjadi seorang yang rebellious, menentang norma-norma yang berlaku di
masyarakat.
Memang bisa dibilang begitu, tapi nggak
selalu dilakukan in a wrong way. Tidak kemudian dengan ciuman di depan
kamera, demi memberontak pada aturan kesusilaan. Tidak juga dengan smoke
the weed, demi memberontak pada aturan mengenai larangan mabuk.
You
can do it in better way, Nak! Misalnya, kamu nggak suka jadi karyawan
seperti umumnya orang-orang, maka kamu mulai menjajaki mimpimu menjadi
seorang enterpreneur sejak sekarang. Atau saat kamu dianggap nggak mampu
menembus IPK tinggi, maka kamu pun belajar mati-matian untuk
mendapatkan gelar cum laude. Atau kondisi kamu nggak memungkinkan untuk
menjadi pemusik karena pendengaran kamu yang mengalami gangguan, kamu
justru tampil bak Beethoven di panggung sekolahmu. Ingin membebaskan
jiwamu, Nak? Maka lakukan perjalanan seperti seorang Christine sang
Grrrl Traveler!
See? You can do much much better as a rebellious an free-spirited person in a good way!
Nah, Mama. Sepakat kan dengan saya, bahwa nggak perlu kita sendiri yang berbuat salah baru kemudian belajar? Kita bisa belajar dari kesalahan orang. Kita sendiri sebagai orangtua juga nggak pernah bisa berhenti belajar sampai kapan pun, apalagi kalau sampai menyangkut kehidupan masa depan anak-anak kita kan?
Maka, yuk, kita belajar dari kasus Awkarin. Kita belajar dari kesalahan orang lain, dan jangan sampai jatuh di lubang yang sama. Berusaha melakukan hal yang positif, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang baik.
Stay positive, Mama!